Berteduh Di Bawah Bayangan Kaabah

*Puisi ini ditulis semasa penulis mengerjakan Umrah pada bulan Ramadhan lepas

Di saat memandangnya,

Satu rasa yang sukar diucap bicara,

Bergelora,bergetar ke seluruh pelusuk jiwa,

Terbit suci dari jantung hati yang terpesona,

Hanya yang hadir bisa merasa

Inilah Kaabah!Kiblat yang satu

Padanya umat manusia berhimpun satu,

Tunduk membesarkan Tuhan Yang Maha Satu,

Meskipun cuma binaan batu,

Namun dipasak dari hati yang jitu,

Seteguh binaan itu,

Ibrahim dan Ismail telah memulakan asas yang padu,

Buat pejuang,perjalanan masih jauh beribu batu

Di sini segalanya bermula,

NabiMu memulakan langkah pertama,

Tiga tahun secara rahsia bukan semudah yang disangka,

Demi membentuk generasi bulat imannya,

Patuh dan tunduk kepada Allah semata-mata,

Mengikis diri dari karat jahiliah yang lama,

Bersarang di lubuk hati dan jiwa,

Tali persaudaraan dibina,

Bukan atas dasar bangsa dan bahasa,

Pangkat maupun harta,

Tapi kerna asas kepercayaan yang dikongsi bersama,

Berbuat kebaikan itulah yang dijana,

Untuk si miskin yang meminta-minta,

Untuk si tua yang dilupa,

Untuk si Hawa yang terdaya,

Untuk si kecil riang ria

Harapkan panas sampai ke petang,rupanya mendung di tengah hari,

Kaum keluarga terdekat telah mengetahui,

Dakwah Muhammad untuk mereka dan seluruh penghuni bumi,

Hanya Allah saja yang wajib disembahi,

Nanti azab nerakalah yang akan menyambari,

Abu Lahab lantas menyahut berdiri,

Memberi amaran,cacian dan maki,

Namun Abu Talib terus membela di sisi

Bukit Safa menjadi saksi,

Jika aku kata di balik ini ada tentera bersembunyi,

Siap sedia menyerang kota ini,

Adakah kamu akan mempercayai?

Bahkan!Engkau al-Amin negeri ini,

Maka,takutlah azab neraka yang menunggu di kemudian hari,

Ikutlah aku,Rasul umat ini,

Celaka kau!Hanya kerana ini kau memanggil kami,

Maka celaka itu telah pasti,telah pasti,

Buat Abu Lahab duniawi dan ukhrawi

Hari demi hari ujian bertambah sukar,

Pasti ada saja yang diseksa dan dibakar,

Dijemur di tengah mentari yang membakar,

Namun Bilal tetap dengan akidah subur mekar,

Jasad terkurung sakit,namun ruh merdeka segar,

Namamu akan terus terlakar

Sabarlah keluarga Yasir,janjimu ialah syurga,

Sumaiyyah dan suami terus menerus dipaksa,

Kembali semula ke daerah kufur atau terus disiksa,

Tapi daerah akhirat jualah yang didamba,

Darah yang mengalir merah membara,

Dari tombak menusuk tubuh lemah tak bermaya,

Bukti iman tetap teguh setia,

Dikaulah syahidah pertama!

Detik ini,sejauh mata memandang,

Ribuan berasak-asak datang,

Mengejar ganjaran yang mencurah-curah bertandang,

Dalam kehangatan yang tak pun diundang,

Sangkakan umat sudah mampu menang,

Rupanya buih,dipukul ombak terhuyung-hayang,

Terdampar di lautan,

Tiada pendirian,lemah longlai melayang,

Tak mampu menjaga diri,ini pula saudara sebelah yang sedang ditendang,

Sesuka hati disepak,ditumbuk diterajang,

Buas bagai binatang,

Meratah melunas dendam yang lama tersimpan

Pemuda-pemuda harapan,

Sedarlah dari angan-angan,

Kosong tanpa gerak kerja dan perancangan,

Buka matamu,realiti ada di hadapan,

Tetapkan arah dan tujuan,

Membina generasi harapan,

Pewaris perjuangan generasi silam

Kusandarkan tubuh yang lemah,

Di bawah bayangan Kaabah,

Di bumi penuh berkah,

Pada Tuhan Yang Maha Pemurah,

Hanya padaMu tempat berserah,

Kerna perjalanan ini masih jauh….

2 Responses to Berteduh Di Bawah Bayangan Kaabah

  1. hati sufi says:

    tahniah,puisi yg penuh kekuatan

  2. nur dhuha says:

    terbaik…ku damba redha mu ya Rabb….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: